Beratnya Perjuangan Rosululloh di Makkah dan Madinah

  • Whatsapp
Mekah Madinah
Ilustrasi Perjuangan Rosul SAW.

Oleh: Dimas Madia S.Sos

SETIAP kali mendalami sejarah kenabian, khususnya kisah hidup Perjuangan Rosululloh Nabi Muhammad saw, terasa begitu besar beban perjuangan yang harus ditanggung oleh utusan Allah yang terakhir ini. Dalam hidupnya, beliau harus berjuang dengan semua yang ada padanya untuk menyampaikan wahyu-wahyu Tuhan kepada manusia, di mana pada saat itu, keadaan masyarakat telah sangat rusak. Kehidupan itu begitu menyedihkan hingga disebut sebagai zaman jahiliyah.

Allah memperbaiki kehidupan sosial melalui pengiriman Perjuangan Rosululloh. Ketika umat manusia ditinggalkan oleh Nabi Isa selama lima ratus tahun, keadaan masyarakat kembali memburuk. Masyarakat pada masa itu dikenal sebagai jahiliyah. Keadaan jahiliyah ditandai dengan rendahnya penghargaan terhadap perempuan, banyak orang yang diperbudak, mereka yang kuat bebas berbuat semaunya, keadilan absen, dan bahkan yang lebih parah, mereka menyembah patung-patung.

Masyarakat Arab, khususnya suku Quraisy, yang dikenal dengan sebutan jahiliyah, merupakan kelompok pertama yang menerima dakwah dari Nabi terakhir. Meskipun ajarannya sangat mulia, yang mencakup panggilan untuk kembali kepada Tuhan yang sebenarnya melalui Perjuangan Rosululloh, penghormatan terhadap perempuan dan orang tua, sikap baik terhadap sesama, tanpa diskriminasi, penegakan keadilan, dan penghargaan terhadap ilmu, seruan ini mendapatkan penolakan dari para pemimpin suku dan orang-orang yang merasa terancam dengan posisi mereka.

Ajaran yang berharga tersebut bukannya mendapatkan dukungan, melainkan justru Nabi Muhammad saw. diperlakukan dengan permusuhan, ruang geraknya diperkecil, bahkan diupayakan untuk dibunuh. Siapa pun yang mendukung beliau dalam menyebarkan pesan ilahi juga ikut menjadi sasaran kebencian. Setelah waktu yang cukup lama dan hasil yang kurang maksimal, Nabi Muhammad saw. pun memutuskan untuk berhijrah dari Makkah menuju Yastrib, yang sekarang dikenal sebagai Madinah.

Betapa beratnya perjuangan ini, sebenarnya bisa dilihat tidak hanya dari tantangan yang dihadapi, tetapi juga dari kenyataan bahwa utusan Allah itu harus melakukan hijrah. Dalam proses berhijrah, Nabi Muhammad harus menempuh jarak yang cukup jauh dan itu hanya dapat dilakukan dalam waktu yang lama, bahkan bisa berhari-hari. Saat ini, perjalanan dari Makkah ke Madinah bisa ditempuh dengan bus dalam waktu sekitar 6 hingga 7 jam, sedangkan dengan pesawat hanya memerlukan sekitar 45 menit. Bayangkan saja betapa sulitnya jika jarak tersebut dilalui dengan berjalan kaki atau menunggang unta.

Perjalanan dari Makkah ke Madinah tidak dapat dibandingkan dengan kondisi jalan di Indonesia. Jalan yang menghubungkan kedua kota suci tersebut adalah padang pasir berbatu dan disertai dengan suhu udara yang sangat panas. Nabi dan para sahabatnya harus berjalan kaki atau menunggang onta, yang jelas sangat berat bagi orang biasa. Beban tersebut semakin berat karena mereka dikejar oleh musuh yang ingin membunuhnya. Musuh-musuhnya tidak hanya ingin mengusir Nabi dari Makkah, tetapi memang ingin menghilangkan nyawanya. Berkat hal ini, meskipun beliau sudah berhijrah, dia tetap dikejar untuk dijumpai dan dibunuh.

Saat ini, siapa pun yang bepergian ke Makkah, baik untuk umrah atau haji, lalu berziarah ke Madinah, mereka akan merasakan betapa beratnya perjuangan yang dihadapi Nabi Muhammad pada masa itu. Bagi orang yang berasal dari daerah tropis seperti Indonesia, melihat kondisi padang pasir yang penuh batu, dari Makkah ke Madinah, mungkin sulit untuk membayangkan bisa menjalani perjalanan panjang dan berat seperti itu. Saat ini, kesulitan yang digambarkan tersebut tidak lagi dirasakan.

Kini, antara Makkah dan Madinah telah dibangun infrastruktur jalan yang cukup baik. Begitu juga dengan transportasi seperti bus dan kendaraan pribadi yang sangat mudah ditemukan. Jika ada keluhan, biasanya disebabkan oleh masalah seperti keterlambatan jadwal keberangkatan, kendaraan mengalami gangguan seperti ban pecah, dan sejenisnya. Namun secara keseluruhan, fasilitas perjalanan antara Makkah dan Madinah sudah sangat memadai.

Namun, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat seperti saat ini, perlu dipikirkan oleh setiap individu yang bercita-cita atau merasa sebagai penerus perjuangan Nabi bahwa semangat mereka harus terus ditingkatkan. Melihat kondisi alam antara Makkah dan Madinah bagi para jama’ah haji atau umrah, seharusnya memunculkan tekad dan semangat yang kuat, —sama seperti yang dirasakan oleh Rasulullah, untuk memperjuangkan ajaran Islam yang begitu luhur dan mulia. Tidak seharusnya, dalam kondisi kehidupan yang berlimpah seperti sekarang, siapa pun malah meninggalkan perjuangan untuk umat atau orang lain. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan