BERITAPEDIA – Studi terbaru dari misi Juno milik NASA sukses menyingkap misteri di balik kejadian cuaca luar biasa pada planet Jupiter, dengan kekuatan sambaran petirnya diperkirakan mencapai satu juta kali lebih hebat dibandingkan petir di planet Bumi. Selama rentang waktu puluhan tahun, para ilmuwan hanya dapat melihat kilatan cahaya dari bagian gelap planet gas raksasa itu tanpa memahami kekuatan sesungguhnya karena tertutup lapisan awan yang begitu pekat.
Metode Gelombang Radio
Tim peneliti yang dipimpin oleh Michael Wong, seorang ilmuwan planet dari University of California, Berkeley, beralih dari pengamatan visual ke penelaahan data emisi radio dan gelombang mikro. Mengacu pada laporan AcehGround, instrumen utama pada wahana antariksa Juno memungkinkan para ilmuwan untuk menembus penghalang awan serta merekam data yang lebih tepat tentang kegiatan listrik di atmosfer Jupiter.
BACA JUGA: Saksikan! Hujan Meteor hingga Pink Moon, Fenomena di Bulan April 2026
Pencapaian ini didorong oleh berkurangnya kegiatan badai di wilayah sabuk ekuator utara Jupiter selama periode 2021 hingga 2022. Kondisi yang jarang terjadi itu memberikan kesempatan bagi para ahli untuk mengisolasi sistem badai besar yang dikenal sebagai stealth superstorms. Walaupun secara visual tidak setinggi badai raksasa lainnya, sistem ini menghasilkan denyutan petir yang amat kuat secara terus menerus selama berbulan-bulan.
Analisis Denyut Petir Jupiter
Michael Wong menjelaskan bahwa penggunaan data radio menyajikan pandangan yang jauh lebih menyeluruh dibandingkan cara sebelumnya. “Sangat memuaskan bisa mengolah statistik tersebut dan melihat bahwa dengan data Juno, kami benar-benar menangkap kebanyakan denyut petir pada panjang gelombang radio,” kata Wong. Ia juga menambahkan, “Sebelumnya, ada keraguan apakah kami hanya menangkap denyut terkuat serta melupakan yang lemah.”
Berdasarkan perhitungan terhadap 613 denyutan petir, tim mendapati bahwa kekuatan rata-rata kilat di Jupiter berbeda dari tingkat yang setara dengan di Bumi hingga 100 kali lebih kuat. Akan tetapi, jika memperhitungkan perbedaan panjang gelombang radio yang terukur, para ilmuwan menduga potensi energi puncaknya dapat mencapai angka satu juta kali lipat dari petir terkuat di planet kita.
Komposisi Atmosfer
Dahsyatnya petir di Jupiter sangat dipengaruhi oleh komposisi atmosfernya yang didominasi oleh hidrogen, berbeda dengan Bumi yang didominasi nitrogen. Karena hidrogen jauh lebih ringan, diperlukan akumulasi energi panas yang masif agar udara lembap dapat naik dan membentuk badai. Hal ini menciptakan struktur badai yang jauh lebih besar dan tinggi.
Sebagai perbandingan, badai di Jupiter dapat menjulang hingga ketinggian 100 kilometer, sementara badai di Bumi rata-rata hanya mencapai 10 kilometer. Terkait fenomena ini, Wong melontarkan pertanyaan ilmiah yang mendasar: “Apakah perbedaan kuncinya adalah atmosfer hidrogen vs nitrogen, atau karena badai di Jupiter lebih tinggi sehingga ada jarak yang lebih besar?”
Implikasi Ilmu Pengetahuan
Temuan yang telah diterbitkan dalam jurnal AGU Advances ini memberikan pemahaman baru mengenai mekanisme konveksi dan perpindahan panas pada planet gas raksasa. Bagi dunia astronomi, data ini mempertegas posisi Jupiter sebagai laboratorium alam dengan kondisi cuaca paling ekstrem di tata surya kita. Pemahaman ini penting untuk memetakan risiko dan karakteristik planet-planet serupa di luar sistem tata surya kita.

