Beritapedia, Garut – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Komitmen tersebut disampaikan saat Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melakukan kunjungan kerja ke Klinik Utama Rotinsulu Garut pada Selasa (21/7/2026) bersama jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dan manajemen Klinik Utama Rotinsulu.
Dalam kesempatan tersebut, Abdusy Syakur Amin menegaskan bahwa keberadaan Klinik Utama Rotinsulu memiliki peran strategis dalam mendukung pelayanan kesehatan di Kabupaten Garut. Menurutnya, fasilitas kesehatan milik Kementerian Kesehatan RI tersebut menjadi salah satu mitra pemerintah daerah dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang semakin berkualitas, khususnya di tengah masih terbatasnya sarana kesehatan dan tenaga medis.
Abdusy Syakur Amin berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Garut dengan Kementerian Kesehatan RI dapat terus diperkuat sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin optimal. Ia juga menilai pengembangan Klinik Utama Rotinsulu menjadi rumah sakit merupakan langkah yang sangat baik untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat Garut.
Sementara itu, Kepala Klinik Utama Rotinsulu Garut, dr. Sartika, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Garut dan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut atas dukungan yang telah diberikan sejak awal berdirinya fasilitas kesehatan tersebut.
«”Alhamdulillah, sebetulnya dari awal kami sudah banyak dibantu oleh Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kabupaten Garut. Mulai dari awal kita membangun, bahkan lahan yang digunakan ini merupakan hibah dari Pemda Garut,” ujar dr. Sartika.»
dr. Sartika menjelaskan bahwa Klinik Utama Rotinsulu sebelumnya merupakan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) yang berada di lokasi lain. Namun, setelah fasilitas tersebut terdampak bencana banjir, pelayanan dipindahkan ke lahan hibah dari Pemerintah Kabupaten Garut hingga akhirnya berkembang menjadi Klinik Utama Rotinsulu seperti saat ini.
Menurutnya, keberadaan lahan hibah tersebut menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan pelayanan kesehatan tetap berjalan dan terus berkembang hingga sekarang.
Melihat semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, Abdusy Syakur Amin menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Garut siap mendukung pengembangan Klinik Utama Rotinsulu. Salah satu rencana yang tengah didorong adalah perluasan lahan apabila kondisi anggaran memungkinkan, sehingga pada masa mendatang status Klinik Utama Rotinsulu dapat ditingkatkan menjadi rumah sakit.
Selain pengembangan fisik, Abdusy Syakur Amin juga meminta agar keberadaan Klinik Utama Rotinsulu lebih dikenal oleh masyarakat. Menurutnya, fasilitas kesehatan tersebut telah memiliki pelayanan yang baik, tenaga medis yang kompeten, serta lingkungan yang nyaman, namun masih banyak masyarakat yang belum mengetahui berbagai layanan yang tersedia.
Oleh karena itu, ia mendorong pihak manajemen untuk lebih aktif melakukan sosialisasi melalui pemasangan papan nama atau penunjuk arah yang lebih jelas, serta memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan Facebook sebagai sarana edukasi sekaligus penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, dr. Sartika mengatakan bahwa pelayanan di Klinik Utama Rotinsulu kini tidak lagi hanya berfokus pada penanganan penyakit paru. Saat ini klinik juga telah membuka layanan spesialis penyakit dalam dan akan terus menambah dokter spesialis serta melengkapi fasilitas pendukung sesuai kebutuhan masyarakat Kabupaten Garut.
Dalam kunjungan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani, M.M., turut memaparkan kondisi penanganan Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Garut. Ia menyebutkan bahwa Garut saat ini berada di peringkat kedelapan di Jawa Barat dengan estimasi sekitar 12.000 kasus TBC.
Meski demikian, dr. Leli menegaskan bahwa tingginya angka tersebut merupakan hasil dari upaya aktif pemerintah dalam melakukan pelacakan dan skrining di masyarakat agar penderita dapat ditemukan sedini mungkin dan segera memperoleh pengobatan.
«”Kita justru berupaya mencari penderita TBC sebanyak-banyaknya agar bisa terdeteksi lebih dini, segera diobati secepatnya sampai tuntas, dan penularannya dapat dihentikan,” kata dr. Leli Yuliani.»
Ia menjelaskan bahwa pengobatan TBC memerlukan kedisiplinan pasien selama minimal enam bulan dan dapat berlangsung hingga sembilan bulan atau lebih sesuai hasil evaluasi medis. Ia juga mengingatkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan kebiasaan merokok dapat memperburuk kondisi penderita.
Menutup kunjungannya, Abdusy Syakur Amin kembali menegaskan bahwa Klinik Utama Rotinsulu merupakan fasilitas kesehatan milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang seluruh operasionalnya berada di bawah pemerintah pusat. Melalui kolaborasi yang terus diperkuat antara Pemerintah Kabupaten Garut dan Kementerian Kesehatan, diharapkan kualitas pelayanan kesehatan di Klinik Utama Rotinsulu terus meningkat sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Kabupaten Garut.







