BERITAPEDIA – Kondisi ekonomi yang semakin mencekik memaksa Perum Bulog segera memproduksi Beras SPHP dalam kemasan hemat 2 kg demi menyambung hidup masyarakat miskin.
Langkah ini karena warga sudah tidak sanggup lagi membeli kemasan 5 kg akibat anjloknya daya beli di tengah harga pangan yang melambung.
“Terkait rencana penjualan SPHP kemasan 2 kg, kami sedang siapkan kemasannya dulu ya, jadi belum produksi,” tegas Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani.
Ironi Kemiskinan di Balik Rencana Distribusi Beras SPHP
Pemerintah seolah baru menyadari bahwa banyak rakyat yang kondisi keuangannya sangat memprihatinkan sehingga harus mengandalkan Beras SPHP dalam porsi yang sangat kecil.
Kebijakan ini menjadi cermin kegagalan pemerintah dalam menstabilkan harga pangan secara permanen sehingga rakyat harus membeli beras secara eceran.
“Masyarakat ada yang sangat-sangat minim tidak punya uang, sehingga harus beli dengan ukuran yang 2 kg,” ungkap Rizal.
Pengakuan jujur ini menegaskan betapa rapuhnya ketahanan pangan nasional bagi warga kelas bawah yang hidup dari upah harian.
Kelonggaran Aturan Pengecer dan Target Distribusi Beras SPHP
Meskipun distribusi Beras SPHP diperluas, publik tetap mengkritik lambatnya penanganan birokrasi dalam memulai produksi kemasan 2 kg.
Bulog mengonfirmasi bahwa harga jual kemasan mini ini tetap mengikuti HET dasar sebesar Rp12.500 per kilogram berdasarkan dengan bobot kemasannya.
“Dulu maksimal pembelian hanya 2 pack, nah sekarang kita tambahkan bisa menjadi 5 pack setiap kali beli,” ujar Rizal.
Penambahan kuota ini harapannya bisa meredam gejolak pasar meskipun pengadaan Beras SPHP kemasan kecil tersebut masih dalam tahap persiapan teknis.
Bulog juga meningkatkan kuota pemesanan bagi pedagang agar stok di pasar tidak lagi mengalami kelangkaan yang sering memicu kenaikan harga.
“Masing-masing pengecer dulu bisa pesan sekali pesan 2 ton, sekarang bisa pesan bisa lebih dari 4 ton,” jelas Rizal.
Penambahan kapasitas ini percuma jika distribusi Beras SPHP tetap terhambat oleh proses produksi kemasan yang memakan waktu lama.
Rakyat membutuhkan beras murah saat ini juga, bukan sekadar janji rencana persiapan kemasan yang tidak jelas kapan mulai tersedia.. (edt)











Komentar