Madinah Indonesia, Sunatulloh dan Futuh dalam Kedamaian

  • Whatsapp
NII 1
Ilutrasi.

Oleh: Dimas Madia | Pemimpin Redaksi Beritapedia.co.id

Bagian I

MADINAH INDONESIA, Kalimat tersebut pertama kali ada pada sebuah teks proklamasi Negara Islam Indonesia (NII).

Berdasarkan kajian dan penelusuran penulis, tidak ada sumber lain terkait kalimat MADINAH INDONESIA selain dari proklamasi yang diproklamirkan Imam NII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Adapun teks Proklamasi NII penulis rilis berdasarkan berbagai sumber dengan berbunyi:

Proklamasi Berdirinya Negara Islam Indonesia

BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM
Asyhadu Allaa Ilaaha Illalloh wa Asyhadu anna Muhammadarrosuululloh
Kami Ummat Islam Bangsa Indonesia menyatakan, berdirinya Negara Islam Indonesia.

Maka, hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu ialah: Hukum Islam.
Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar.

Atas nama ummat islam bangsa Indonesia

Imam Negara Islam Indonesia
SM. Kartosoewirdjo

MADINAH – INDONESIA
12 Syawal 1368 H/7 Agustus 1949
_____

Itulah teks Proklamasi NII yang penulis rilis dari berbagai sumber, pada akhir-akhir teks proklamasi itu terdapat kata MADINAH – INDONESIA.

Berkaitan dengan NII, sebelumnya penulis tertarik membuat artikel hingga melakukan penelusuran dan kajian karena saat ini sedang viral-viralnya kasus Al Zaytun pimpinan Panji Gumilang.

Katanya, Panji Gumilang adalah Imam NII Komandemen Wilayah (KW) 9. Menurut berbagai informasi, NII terbagi beberapa Wilayah Komandemen.

Pembagian Wilayah NII tentunya dari sabang sampai merauke atau keseluruhan wilayah Indonesia terbagi struktur Komandemen Wilayah (KW).

Pembagian wilayah tersebut diketahui ketika NII dipimpin oleh sang proklamator Kartosoewirdjo.

Namun, pada tanggal 4 Juni 1962, NII secara the facto dinyatakan menyerah setelah dilakukan pagerbetis oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Artinya, pasca itu NII sudah tidak melakukan gerakan perlawanan.

Bagaimana sebenarnya sejarah didirikannya NII dan apa motifnya?

Pada artikel ini, penulis tidak akan membahas NII KW 9 atau Panji Gumilang, namun penulis tengah focus menulusuri sejarah NII yang dibawa oleh Kartosoewirdjo. Melalui kajian dan penelusuran oleh penulis, terdapat beberapa poin penting mengenai diperjuangkannya NII.

Jika mengupas Sejarah, ternyata NII sebelumnya dicita-citakan oleh umat islam pada saat pemerintah colonial Belanda, tegasnya dimisikan pada saat umat islam dimobilisasi oleh Haji Oemar Said (HOS) Cokro Aminoto melalui Syarikat Islam (SI).

Syarikat Islam pada waktu itu menjadi organisasi islam terbesar saat Belanda menduduki Indonesia atau dikenal pada pemerintahan Hindia-Belanda, sekira pada bulan Juni 1917 melalui kongresnya Syarikat Islam mengeluarkan program yang bernama Azas dan Thandim.

Isi programnya sebagai berikut:

Program Azas
1. Persatuan umat (ke dalam dan antara).
2. Kemerdekaan umat
3. Sifat Pemerintahan
4. Ekonomi Umat
5. Kesamaan derajat
6. Kemerdekaan sejati (Islamic State/Negara Islam)

Program Tandhim
1. Sebersih-bersih Tauhid
2. Ilmu pengetahuan. (setinggi-tinggi ilmu)
3. Siyasah. (sepandai-pandai siasat)

Menurut berbagai literasi, penulis mendapatkan relasi latarbelakang dan benang merah NII yang terkonfirmasi dari program Azas poin 6 tentang Kemerdekaan Sejati yang ditegaskan Negara Islam, atau menurut beberapa data, hal itu diungkapkan oleh HOS Cokroaminoto terkait misi Islamic State.

DIketahui, HOS Cokroaminoto pernah menjadi Anggota Volksraad atau disebut Dewan Permusyawaratan Rakyat dizaman Pemerintah Hindia-Belanda, pada saat itu HOS Cokroaminoto pernah mengaspirasikan kemerdekaan Pemerintahan oleh bangsanya sendiri atau dikenal ZELF BESTUUR .

Terlebih, HOS Cokroaminoto kerap membuat gerah pemerintah Hindia-Belanda atas Gerakan-gerakan yang diprogramkan Syarikat Islam. Tak pelak, maka ia dikenal dengan sebutan Raja Tanpa Mahkota.

Setelah SI berubah menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Gerakan kemerdekaannyapun semakin terbuka. Terutama, ketika PSII mengeluarkan Konsep Hijrah, melalui konsep Hijrah itulah dikenal dengan KONSEP PERJUANGAN DARI MEKAH HIJRAH KE MADINAH.

Bersambung…..

Madinah Indonesia, Sunatulloh dan Futuh dalam Kedamaian (Bagian II).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan