NASA Fokus Bangun Pangkalan di Bulan

  • Whatsapp
NASA
Pemimpin NASA Jared Isaacman (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan dalam jumpa pers di Pusat Antariksa Kennedy, di Cape Canaveral, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, 17 Januari 2026. Dalam kesempatan itu, untuk pertama kalinya diperkenalkan kru Artemis II, yaitu (dari kiri) Jeremy Hansen, Christina Koch, Victor Glover, dan Reid Wiseman.

BERITAPEDIA – Ketua Lembaga Aeronautik dan Antariksa Nasional (NASA) Amerika Serikat, Jared Isaacman, di Washington DC, Selasa (24/3/2026) waktu setempat, menyatakan, perhatian utama badan tersebut kini adalah mendirikan markas di Bulan. Perubahan ini mengizinkan sumber daya NASA dialihkan dari fokus ”sekadar” menciptakan stasiun angkasa di orbit Bulan bersama rekanan dunia.

Isaacman yang ditunjuk oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donad Trump memang menghadapi pekerjaan sulit, yaitu memandu negaranya meraih kemenangan dalam persaingan menempatkan personel dan mendirikan markas di Bulan sebagai tahap awal menuju Mars.

BACA JUGA: Ilmuwan: Material Robot Nano Bisa dari DNA

Saingan utama AS dalam mendirikan markas di Bulan adalah China. Persaingan berjalan ketat sebab China telah berhasil meraih sampel material Bulan melalui robot pendarat pada 2024. Pendaratan bahkan terlaksana di Sisi Jauh Bulan, yakni sisi Bulan yang tidak pernah menghadap ke Bumi.

Salah satu kendala mengirim wahana ke Sisi Jauh Bulan adalah komunikasi langsung dengan Bumi terhalang oleh massa Bulan. China berencana mengirim manusia ke Bulan pada tahun 2030.

Profesor Hukum Antariksa dan Udara Universitas Mississipi, Michelle Hanlon, di theconversation.com, menyatakan, kontes mendaratkan manusia di Bulan saat ini berbeda dari era Perang Dingin AS melawan Uni Soviet. Dulu, persaingan hanya bersifat simbolis dan bukan bagian dari rencana jangka panjang.

Sekarang, persaingan bersifat strategis sebab merupakan bagian dari rencana jangka panjang, yaitu menempatkan manusia dan membangun basis di Bulan. Setelah urusan di Bulan rampung, tahap berikutnya adalah mempersiapkan perjalanan manusia ke Mars dari Bulan.

Dalam kerangka itu, pengumuman Isaacman harus dipahami. Konsentrasi pada pembangunan basis di Bulan membuat NASA akan lebih terfokus dalam menempatkan berbagai sumber daya. Sejumlah 20 miliar dolar AS, menurut Isaacman, akan dialokasikan selama tujuh tahun dan diwujudkan melalui berbagai wahana menuju Bulan.

Malahan, pada permulaan April 2026, NASA dijadwalkan meluncurkan misi empat antariksawan untuk mengorbiti Bulan. Apabila sukses, misi ini akan menyajikan dasar penting untuk mendaratkan manusia di Bulan dalam rangka pembangunan basis.

Dengan persaingan Tiongkok-AS untuk menempatkan manusia di Bulan dan membuat sebuah markas, dapat dikatakan persaingan kedua negara ini bersifat banyak segi: niaga, hubungan luar negeri, kekuatan pertahanan, maupun ilmu pengetahuan kedirgantaraan. Dasar untuk unggul tidak hanya modal, melainkan juga pengajaran ilmu pengetahuan serta penelitian mendalam.

Terlihat nyata bahwa ilmu pengetahuan dan rekayasa amat berperan dalam pertarungan antarnegara. Maka, sudah semestinya Indonesia pun memberikan perhatian yang lebih sungguhsungguh pada ranah tersebut.

Tinggalkan Balasan