Dua Kali Rugi, Ke 3 kalinya Harus Untung Dan Jangan Rugi Lagi 

BISNIS13 Dilihat
Dua kali Merugi Masa yang Ke 3 rugi lagi bodoh itu namanya. Belajar dari pepatah “Harus Siap Rugi” untuk Untung. Tapi jangan salah arti, biar tidak salah Paham apalagi gagal paham.

Ibarat pepatah Sunda mengatakan “Nista, maja, utama”, yang familiar di kalangan orang Sunda dari nenek moyang hingga kini. Mungkin, penulis, generasi Gen Z, dan siapapun orangnya belum, pernah atau sedang dalam pengalaman istilah ini.

Ada contoh kasus, seorang pebisnis muda berhasil mendapatkan keuntungan setiap kali dirinya melakukan bisnis apapun. Dilain sisi ada seorang paruh baya, yang senantiasa merugi ketika melakukan urusan bisnis.

Nah, apa bedanya dari kedua orang ini?? Padahal ada satu kesamaan dalam kasus keduanya yakni menjalankan Bisnis.

Si paruh baya, ya sebut saja Mr.X, selalu saja merugi ketika dia melakukan urusan bisnis. Ia, selalu tidak ada untungnya secara kalkulasi finansial, padahal secara hitungan kelayakan usaha dirinya sudah tahu, dan tercatat di atas kertas setiap anggaran yang harus dikeluarkan dan di simpan.

Namun, setiap kali melakukannya, catatan untung secara finansial itu hilang. Bahkan berubah menjadi minus ( – ) atau hutang. Lantas apa yang terjadi dengan Mr. X, kenapa dia selalu saja merugi acap kali melakukan bisnis?? Atau apakah Mr. X rugi atau untung?

Simak Ceritanya….

SEASION 1

Si Mr. X bercerita, “saya tahu betul saya salah jalan, saya tahu itu tidak boleh, saya tahu harga beli tidak masuk, saya tahu selisih harga beli dengan harga jual sedikit, saya tahu operasional cost membengkak, dll”

Namun, itu saya lakukan karena saya “tanggung jawab, terdesak, tertekan, ketakutan, tidak percaya diri, spekulasi tinggi, dan selalu melakukan sesuai dengan akal dan pembawaan pikiran saya, namun hati ini nggak bisa menolak itu untuk tidak dilakukan.

Tentu saja kalkulasi hitungan keuntungan secara finansial, akibat Mr. X melakukan itu semua menyebabkan kerugian.

Rugi, kata ini yang selalu di hindari para pengusaha. Namun, di kenyataan, saya juga menemukan kata rugi justru dipelihara pengusaha.

Lantas, apa beda dari keduanya?? Ternyata, dalam perjalanan bisnisnya Mr.X menemukan makna keduanya. Ada nilai (value) yang berbeda dari keduanya.

Dapat dikatakan “rugi” yang karena patokan keuntungannya hanya di angka (nominal), dan “rugi” yang kedua karena patokan keuntungannya bukan hanya angka (non-nominal) saja.

Terbelalak, ketika keduanya datang kepada Mr.X secara bersamaan dalam waktu yang singkat. Kenapa? Sebab dua sisi rugi ini keduanya memiliki makna, nilai dan pelajaran bagi Mr.X.

Mr. X, berpengalaman dua kali jual pisang, yang pertama kalinya mengalami kerugian secara materil (angka), serta yang keduanya rugi materil dan menimbulkan utang, Kenapa Mr. X Rugi jual pisang ini ini dua kali?

Jual pisang pertama, ada order dari buyer yang jumlah kuantitinya lumayan besar. Namun, Mr. X belum tahu jenis pisang, tempat jual, harga beli, operasional, dan resiko lainnya.

Namun rasa takut, tekanan pribadi, dan desakan kenyataan hidup membuat Mr.X melakukan spekulasi tinggi dengan membeli pisang yang di order buyer secara dadakan.

Alhasil, pisang tidak diterima buyer, dan harus mengganti sesuai dengan yang di order yang ada akhirnya, Mr.X merugi karena harus belanja dua kali dan di bayar satu kali.

Pada sesi kedua, Mr.X melayani order pisang yang kedua kalinya. Kali ini kuantitinya jauh lebih besar dari order yang pertama. Secara kalkulasi hitungan angka, keuntungan lebih besar.

Dari pengalaman pertama, Mr.X tahu tempat jual pisang, gambaran harga beli dan harga jual, serta selisih yang dapat menjadi keuntungan.

Namun, Mr. X pada order yang kedua ini luput dari biaya operasional transport, proses packing, penyusutan dan reject barang, serta ada biaya sosial responsibility.

Pada pengalaman kedua ini, ada tekanan sosial yang mendesak dilakukan Mr.X, tekanan pribadi, dan tekanan tanggung jawab profesionalitas.

Pada proses kedua ini, pisang diterima dengan baik, namun masih ada reject, tidak keluar modal beli pisang dua kali. Namun, ada dana yang di simpan bukan posnya terganggu. Sebab, muncul biaya lainnya yang harus di tutupi.

Misal, biaya transport menguras 90% dari selisih harga yang tadinya keuntungan. Serta muncul biaya sosial responsibility 10%, dari selisih harga, dan reject barang yang mencapai 30%.

Alhasil, pada pengalaman kedua ini Mr.X, melakukan bisnis jual beli pisang yang hasil akhirnya “rugi plus”. Atau dengan kata lain secara angka Mr.X rugi besar bahkan menimbulkan hutang. 30% dari biaya pembelian barang.

Namun, ia menemukan hal yang baru yang dapat dinilai keuntungan Mr.X, apa itu? Pertama Koneksi, mr.x menemukan teman, rekan dan koneksi pisang yang bisa menjadi kedepan dapat berbisnis secara autopilot.

Dapat dikendalikan jarak jauh, dan tidak cape, dan meminimalisir resiko reject barang seperti pengalaman pertama dan kedua.

Kedua yakni tanggung jawab (responsibility), Mr.X menemukan arti tanggung jawab yang diselesaikan kendati belum sempurna, ternyata menghasilkan hal positif. Namun, bukan materil yakni kepercayaan (trust).

Ketiga peluang usaha mendepan (change). Ternyata, ketika kita mengejar target tanggung jawab yang diselesaikan dengan cepat, tepat waktu, tepat sasaran, tepat hitungan, itu memunculkan kepercayaan yang tinggi dari lawan bisnis.

Alhasil, Mr. X dari pengalaman kedua ini, Mr. X muncul percaya diri, takut salah, hindari spekulasi/judi, dan fokus pada apa yang menjadi target bisnis.

Dapat disimpulkan dari kedua pengalaman singkat Mr.X ini, pepatah Sunda “nista, Maja, utama” dapat dijadikan patokan. Kali ini baru nista dan Maja, kalau pada pengalaman ketiga masih rugi itu sudah utama.

Kebangetan, bukan saja bodoh, tetapi masuk kategori orang tolol. Namun, sebagai insan yang memiliki ageman kuat. Masa kita harus tetap berada dalam kerugian.

Tentu saja, kata yang tepat untuk maju adalah “yang ke 1 dan ke 2 boleh rugi tapi yang ke 3 dan seterusnya harus untung.

Untung secara moril maupun materil, untung secara duniawi maupun akhir. Kenapa agar Mr.X selamat sampai tujuan.

Simak Session 2 dengan tajuk “tidak ada untung kalau tidak tahu rugi”..

Komentar

Baca juga