Drainase Maut di Jalur Puncak Abaikan Nyawa Manusia Demi Prosedur

  • Whatsapp
Tragedi maut pasutri di Jalur Puncak mengungkap bobroknya drainase yang dibiarkan terbuka tanpa evaluasi pemerintah hingga menelan korban jiwa
Tragedi maut pasutri di Jalur Puncak mengungkap bobroknya drainase yang dibiarkan terbuka tanpa evaluasi pemerintah hingga menelan korban jiwa

BERITAPEDIA – Kelalaian infrastruktur kembali memakan korban jiwa di wilayah Jawa Barat. Keluarga pasangan suami istri yang tewas terseret luapan drainase di Jalur Puncak, Desa Cipendawa, menuntut pertanggungjawaban penuh pemerintah.

Saluran air yang dibiarkan menganga tanpa pengaman tersebut menjadi bukti nyata pengabaian keselamatan publik.

Tragedi ini memicu kemarahan keluarga karena kondisi fisik jalan yang menurun sangat membahayakan saat hujan.

Evaluasi Mandek dan Bahaya Drainase di Jalur Puncak

Pihak keluarga mengecam keras pembiaran lubang maut yang tidak memiliki pembatas atau penutup permanen.

Air yang meluap ke badan jalan mengubah drainase di Jalur Puncak menjadi jebakan mematikan bagi pengendara motor.

BACA JUGA: Angin Kencang Robohkan Pohon Raksasa yang Lumpuhkan Arus Kendaraan di Jalur Nagreg

“Keluarga sangat menyayangkan kondisi tersebut karena apabila ada penutup korban tidak akan hanyut sejauh itu,” ujar perwakilan keluarga korban, Hafiz, Senin (31/3/2026).

Ironisnya, kejadian serupa bukan merupakan peristiwa pertama yang terjadi di lokasi yang sama.

Warga melaporkan bahwa beberapa tahun lalu seorang ibu dan anak juga tewas di drainase di Jalur Puncak tersebut.

“Katanya beberapa tahun lalu juga ada ibu dan anak hanyut karena drainase terbuka, jadi kenapa tetap dibiarkan,” tegas Hafiz menuntut jawaban pemerintah.

Birokrasi Berbelit dan Nasib Drainase di Jalur Puncak

Keluarga menilai pemerintah daerah maupun instansi pembangunan umum gagal melakukan evaluasi meski nyawa sudah melayang.

Ketidakhadiran negara dalam merespons musibah ini semakin menambah luka mendalam bagi pihak keluarga.

“Instansi terkait harus mengerti apa yang namanya evaluasi, sampai saat ini belum ada yang menghubungi keluarga,” kata Hafiz dengan nada kecewa.

Menanggapi desakan tersebut, Bupati Cianjur Muhammad Wahyu berdalih bahwa ruas tersebut merupakan jalan nasional.

Tanggung jawab pemeliharaan drainase di Jalur Puncak diklaim berada di bawah otoritas pemerintah pusat.

“Kami akan segera berkomunikasi dan mendorong agar dilakukan penanganan baik menutup drainase atau memasang pembatas,” jelas Wahyu kepada media.

Sementara itu, Polres Cianjur mengambil langkah darurat dengan memasang pembatas sementara di sepanjang aliran air.

Polisi berupaya mencegah adanya korban tambahan akibat buruknya manajemen drainase di Jalur Puncak yang belum diperbaiki.

“Kami tentu akan melakukan langkah awal dengan memasang pembatas sepanjang aliran drainase ini,” ungkap Kapolres Cianjur AKBP A. Alexander Yurikho Hadi.

Sebelumnya, pasangan suami istri berpelat nomor D 2613 KL terperosok saat menerjang banjir pada Minggu petang.

Keduanya hilang ditelan arus deras saluran drainase yang meluap setelah kawasan tersebut diguyur hujan sangat lebat. (edt).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan