Pemuda Persis Teguhkan Diri sebagai Arsitek Peradaban

  • Whatsapp
IMG 20260913 WA0008

BANDUNG – Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) I Masa Jihad 2026–2031 di Gedung Merdeka, Bandung, Sabtu, 12 September 2026.

 

Bacaan Lainnya

Mengusung tema “Transformasi Gerakan Membangun Episentrum Dakwah Peradaban”, forum tersebut menjadi momentum untuk merumuskan arah gerakan Pemuda Persis dalam menghadapi perubahan zaman.

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis Hilman Rasyid mengatakan pemilihan Gedung Merdeka sebagai lokasi Muskernas memiliki makna historis. Menurut dia, gedung tersebut bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol keberanian para pemimpin dalam menentukan arah perubahan.

 

“Gedung ini bukan hanya sekadar bangunan tua berbahan batu dan semen, melainkan gedung ini adalah sebuah monumen hidup tentang keberanian pemuda dan juga para pemimpin dunia pada saat itu,” ujar Hilman dalam sambutannya.

 

Gedung Merdeka menjadi salah satu lokasi penting dalam Konferensi Asia-Afrika 1955. Dari tempat itu, semangat Dasasila Bandung menjadi bagian dari perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika melawan kolonialisme serta memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri.

 

Bagi Hilman, semangat tersebut relevan dengan tantangan Pemuda Persis saat ini. Gedung Merdeka, kata dia, harus menjadi simbol keberanian untuk memimpin perubahan, bukan sekadar menjadi pengikut.

 

“Gedung Merdeka ini menjadi simbol, simbol keberanian untuk memimpin perubahan global, untuk menolak menjadi pengekor, dan siap berdiri tegak sebagai pilar peradaban,” katanya.

 

Tantangan generasi muda saat ini, menurut Hilman, telah berubah. Jika perjuangan generasi terdahulu berhadapan dengan penjajahan secara fisik, generasi sekarang menghadapi disrupsi teknologi, pergeseran nilai sosial, krisis kesehatan mental, persoalan kemandirian ekonomi, hingga krisis moralitas anak muda.

 

Karena itu, Pemuda Persis dituntut melakukan pembaruan secara menyeluruh atau Tajdid Syamil.

 

“Pemuda Persis hari ini dituntut untuk menghadirkan sebuah pembaharuan yang komprehensif, sebuah pembaharuan yang menyeluruh, yang oleh para ahli disebut sebagai Tajdid Syamil,” ujar Hilman.

 

Hilman mengatakan gerakan pembaruan tersebut harus kembali berpijak pada visi dakwah Islam. Ia merujuk QS Ali ‘Imran ayat 110 yang menggambarkan umat Islam sebagai khairu ummah atau umat terbaik.

 

Menurut Hilman, predikat tersebut bukan penghargaan tanpa syarat. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan, yakni beriman kepada Allah, menyerukan kebaikan, dan mencegah kemungkaran.

 

Iman kepada Allah, kata dia, menjadi jangkar spiritual. Amar makruf diterjemahkan sebagai aksi kebaikan di ruang publik, sedangkan nahi munkar menjadi upaya mencegah kerusakan moral.

 

“Redaksi ukhrijat lin-naas juga dalam ayat ini menjadi cetak biru bagi pergerakan Pemuda Persis,” katanya.

 

Karena itu, kader Persatuan Islam tidak cukup hanya dibentuk menjadi pribadi yang saleh. Mereka juga harus mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat, berkhidmat kepada umat, dan melanjutkan estafet peradaban Islam.

Hilman menilai semangat khairu ummah membutuhkan arah perjuangan yang jelas. Dalam konteks itu, khittah menjadi garis yang menjaga identitas dan komitmen gerakan Pemuda Persis.

Khittah Pemuda Persis, menurut dia, menjadi garis perjuangan dakwah dan kaderisasi yang berasaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

“Khittah ini adalah jangkar yang menjaga kapal dakwah Pemuda Persis ini tetap stabil dalam mengarungi gelombang zaman hari ini,” ujarnya.

 

Tanpa khittah, dia khawatir gerakan Pemuda Persis kehilangan nilai dan ruh perjuangan serta berubah menjadi organisasi kepemudaan yang hanya mengejar popularitas.

 

Karena itu, masa depan jam’iyyah tidak bisa semata-mata mengandalkan warisan sejarah. Masa depan organisasi harus dirancang dan diperjuangkan bersama oleh kader.

 

“Masa depan jam’iyyah kita hari ini itu tidak diwariskan. Masa depan jam’iyyah Pemuda Persatuan Islam itu harus dirancang, harus diperjuangkan dalam kebersamaan,” kata Hilman.

 

Ia menegaskan kader Pemuda Persis harus mengambil peran sebagai arsitek peradaban. Kejayaan organisasi, kata dia, bukan sesuatu yang cukup dikenang dari masa lalu, melainkan harus kembali diperjuangkan melalui kerja generasi saat ini.

 

Hilman menegaskan Muskernas I tidak boleh berhenti pada kesepakatan normatif atau menghasilkan tumpukan program di atas kertas. Forum tersebut harus menjadi ruang untuk menerjemahkan khittah dan visi gerakan menjadi program nasional yang konkret.

 

“Muskernas ini adalah ruang untuk menghadirkan kembali, untuk menerjemahkan kembali khittah gerakan kita, untuk menerjemahkan kembali visi gerakan kita, sehingga kita membuat sebuah program nasional yang nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” tuturnya.

 

Melalui Muskernas I Masa Jihad 2026–2031, Pemuda Persis meneguhkan arah gerakannya untuk membangun dakwah yang berakar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sekaligus mampu menjawab persoalan generasi muda.

 

Dari Gedung Merdeka, semangat sejarah perjuangan Asia-Afrika itu menjadi pijakan bagi Pemuda Persis untuk tidak sekadar mengenang masa lalu, tetapi merancang masa depan dan mengambil peran sebagai arsitek peradaban.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan