JAKARTA – Panggung debat publik tanah air kembali diguncang oleh adu argumen yang nyaris melampaui batas kewajaran. Program talkshow Rakyat Bersuara yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi iNews TV di bawah kendali jurnalis senior Aiman Witjaksono, berubah menjadi arena pertempuran ideologis yang brutal. Sorotan utama malam itu tertuju pada sosok Rocky Gerung, sang kritikus ikonik yang dituding mulai melunak dan kehilangan taji oposisinya di hadapan rezim baru.
Polemik memuncak saat forum mulai membedah program ambisius penguasa, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Rocky Gerung yang biasanya berdiri di garis paling depan untuk merobohkan setiap narasi istana, kali ini justru tampil pasang badan membela program tersebut. Anomali sikap sang filsuf ini langsung memicu kecurigaan besar dari sesama rekan pengamat, yang menilai ada indikasi “gencatan senjata” terselubung antara Rocky dan lingkar kekuasaan.
Kritik paling menohok datang dari pengamat politik Ubedilah Badrun. Tanpa basa-basi, Ubedilah menelanjangi inkonsistensi berpikir Rocky dengan sebutan “paradigma gado-gado”. Istilah satir ini dilemparkan untuk menyindir sikap politik yang dicampuradukkan secara serampangan, di mana seorang tokoh yang mencitrakan diri sebagai oposisi murni tiba-tiba menjadi pembela utama dari kebijakan strategis bentukan pemerintah.
Merasa kredibilitas intelektualnya diusik, Rocky Gerung langsung melancarkan serangan balik dengan gaya bicaranya yang khas dan sarkastik. Ia menuduh para pengkritiknya terlalu dangkal karena hanya bisa menghitung angka anggaran teknokratis tanpa memahami esensi hak asasi rakyat. Rocky bersikeras bahwa membela hak gizi anak-anak bangsa bukanlah bentuk pelacuran intelektual ataupun tanda bahwa dirinya telah bertekuk lutut di bawah ketiak penguasa.
Atmosfer di dalam studio iNews TV mendadak mencekam ketika Rocky, dalam luapan emosinya, melontarkan kata “tolol” untuk menyerang cara berpikir lawan bicaranya. Ucapan kasar yang keluar di ruang siaran publik tersebut langsung menyentak sang pemandu acara. Aiman Witjaksono bergerak cepat memotong pembicaraan, menolak membiarkan panggungnya berubah menjadi ajang caci maki tak beradab.
Ketegangan antar-ego pun tak terhindarkan ketika Aiman secara terbuka menyemprot Rocky Gerung di depan kamera. Sang jurnalis senior menegaskan dengan nada tinggi bahwa ketajaman argumen tidak boleh mengorbankan etika berkomunikasi di layar kaca. Teguran keras dari Aiman ini sempat membungkam riuh studio, menciptakan jeda yang penuh intimidasi dan kecanggangan di antara para narasumber.
Di tengah riuh rendah caci maki intelektual tersebut, mantan pejabat sekaligus akademisi Henri Subiakto mencoba melihat fenomena ini dari sudut pandang yang berbeda. Henri menilai sinisme publik yang menuduh Rocky telah beralih menjadi “antek” presiden terpilih Prabowo Subianto sebagai hal yang wajar namun menarik. Baginya, jika seorang perusak alur berpikir penguasa seperti Rocky saja bisa “dijinakkan” oleh substansi program pangan ini, artinya konsep kebijakan tersebut memang memiliki daya pikat yang kuat.
Namun, pembelaan filosofis Rocky tidak serta merta lolos dari sensor tajam pengamat ekonomi senior Ichsanuddin Noorsy. Dari kursi seberang, Noorsy terus mencecar dari aspek realitas fiskal dan ketahanan hukum anggaran negara yang dianggapnya rapuh. Perdebatan ini menguliti jurang pemisah yang lebar antara utopia pemikiran filosofis Rocky dengan realitas pahit ruang publik yang harus tunduk pada aturan hukum tata negara.
Menolak dicap telah kehilangan taringnya, Rocky Gerung kembali menegaskan bahwa komitmennya terhadap demokrasi tetap berada di jalur yang ekstrem. Ia mengklaim posisinya tidak bergeser satu sentimeter pun dari garis oposisi dan akan tetap menjadi pengganggu tidur nyenyak penguasa jika konstitusi dilanggar. Baginya, ketidakmampuan publik membedakan antara dukungan terhadap hak rakyat dan ketundukan politik adalah bentuk kegagalan nalar yang menyedihkan.
Episode Rakyat Bersuara malam itu berakhir dengan menyisakan tanda tanya besar yang menggantung di benak publik. Potongan klip adu mulut yang melibatkan umpatan Rocky dan ketegasan Aiman langsung beredar luas dan merajai tangga tren di berbagai media sosial. Kejadian ini menjadi tamparan keras sekaligus cermin retak bagi dunia penyiaran kita: apakah debat publik hari ini memang mencari kebenaran substansial, atau sekadar panggung teater demi meraup rating setinggi-tingginya?




